Ulasan kami sebelumnya tentang “rapier,” pedang kecil, dan jenis-jenis “pedang tusuk” lainnya meyebutkan bahwa jenis-jenis pedang tersebut pada hakikatnya merupakan pengembangan dari jenis-jenis pedang sebelumnya yang tidak begitu mengkhususkan diri pada kemampuan menusuk dan masih dapat digunakan untuk menebas pula. Munculnya keluarga “pedang tusuk” tersebut tidak serta-merta memusnahkan jenis-jenis pedang yang lebih menekankan kemampuan menebas. Sebaliknya, jenis-jenis pedang tersebut beserta ilmu penggunaanya menjadi cabang besar kedua dalam perkembangan ilmu pedang Eropa sejak pertengahan abad ke-16. Kecenderungan ini dapat terlihat dari munculnya istilah-istilah seperti Haudegen (“pedang tebas”) dan Hiebfechten (“anggar tebas”) dalam bahasa Jerman, espadon (“pedang besar”) dalam bahasa Perancis, dan broadsword (“pedang lebar”) dalam bahasa Inggris untuk membedakan jenis dan ilmu pedang ini dari aliran-aliran “pedang tusuk” seperti smallsword (“pedang kecil” dalam bahasa Inggris). Kemudian, pada sekitar pertengahan abad ke-18, penggunaan pedang melengkung yang umumnya dikenal sebagai sabel (dari kata szablya dalam bahasa Hungaria atau szabla dalam bahasa Polandia) mulai menyebar luas di kalangan militer Eropa akibat keberhasilan pasukan husar (kavaleri ringan) Hungaria dalam dinas ketentaraan Austria. Walaupun bentuk sabel sepintas nampak berbeda dari pedang-pedang lurus yang sebelumnya mendominasi ilmu pedang tebas di Eropa Barat, pada nyatanya cara penggunaan sabel militer di Eropa Barat pada umumnya dikembangkan dari ilmu yang sebelumnya digunakan dengan pedang tebas berbilah lurus, sehingga tidak banyak perbedaan dengan tradisi sebelumnya dan banyak sekali naskah ilmu pedang Eropa abad ke-18 dan ke-19 yang menyatukan pembahasan tentang kedua jenis pedang tersebut.

Pembahasan dalam artikel ini akan dipusatkan pada tradisi “pedang tebas” dan sabel Britania Raya (termasuk Inggris, Wales, dan Skotlandia) dari akhir abad ke-16 hingga awal abad ke-20 karena informasi dan naskah sumber tradisi ini lumayan mudah didapat dan bahasa asli naskah sumbernya tidak begitu asing bagi kebanyakan pengguna Internet di abad ke-21.

Naskah sumber yang umumnya dipandang sebagai salahsatu bukti awal percabangan ilmu pedang menjadi tradisi “pedang tebas” dan “pedang tusuk” di Inggris adalah Paradoxes of Defence dan Brief Instructions on My Paradoxes of Defence karangan George Silver. Kedua naskah tersebut mengutuk ilmu “Rapier” yang sedang naik daun di Inggris pada akhir abad ke-16 sebagai ilmu “asing” yang dibawa oleh pendatang dari Spanyol dan Italia, sementara Silver sendiri mengagungkan ilmu “pedang pendek” (short sword) yang diusungnya sebagai ilmu pedang “pribumi” Inggris. Tentu saja pandangan Silver ini tidak sepenuhnya tepat karena  perkembangan pedang dan ilmu “rapier” di Inggris menampakkan beberapa unsur khas yang tidak ditemui di Eropa daratan, sementara sebaliknya pula ilmu pedang tebas masih banyak dikembangkan dan dipelajari di “negeri seberang.” Tetapi sudut pandang Silver yang diwarnai xenofobia (kebencian terhadap orang asing) ini tidak mengurangi nilai naskah-naskah karangannya sebagai sumber pembelajaran yang sangat berguna tentang ilmu pedang Inggris di penghujung masa Renaisans.

Pada tahun 1617 Joseph Swetnam menerbitkan Schoole of the Noble and Worthy Science of Defence yang menyajikan sudut pandang yang nyaris berkebalikan dari Silver karena ia lebih menyukai pedang “Rapier” panjang (“foure foote long or longer” — sepanjang empat kaki atau lebih) dan menganggap “pedang pendek” (“short sword“) sebagai senjata yang lebih lemah. Tetapi di satu sisi aliran “Rapier” yang diajarkan Swetnam masih menampakkan pendekatan khas Inggris dengan pertahanan yang kuat dan cukup banyak jurus tebasan, sementara di sisi lain Swetnam tetap menambahkan sedikit pembahasan tentang cara bertarung dengan “pedang pendek” karena ia merasa pembacanya perlu mengetahui cara bertarung yang benar walaupun mereka terlanjur “keliru” memilih senjata.

Perkembangan ilmu pedang tebas di Britania Raya (terutama Inggris dan Skotlandia) pada abad ke-17 dan ke-18 terikat erat dengan para “gladiator” berpedang yang bertanding di panggung pertunjukan sebagaimana layaknya petinju profesional di zaman modern. Ini tidak mengherankan karena ilmu pedang, tinju, dan gulat memang merupakan ketiga unsur dalam ilmu beladiri tradisional Britania yang dikenal sebagai “Noble Science of Defence” dan sering dipertandingkan di panggung pada zaman tersebut. Zaman ini juga ditandai dengan munculnya istilah-istilah yang lebih baku untuk membedakan jenis-jenis pedang tebas dalam bahasa Inggris — terutama pemisahan antara istilah “broadsword” (“pedang lebar”) untuk pedang lurus bermata dua dan “backsword” (“pedang berpunggung”) untuk pedang lurus bermata satu, walaupun biasanya pedang backsword sekalipun masih memiliki mata belakang yang dipertajam sepanjang 20-40cm dari ujungnya. Contoh-contoh kitab/naskah sumber tentang ilmu pedang tebas Britania dari zaman ini adalah James Miller dan Thomas Page. Ada satu benang merah yang nampak pada sebagian besar naskah-naskah sumber tersebut, yaitu pemakaian gerakan kaki yang disebut “slip” — menarik kaki depan mundur hingga sejajar (atau bahkan kadang-kadang sedikit melewati) kaki belakang tanpa memindahkan berat/keseimbangan tubuh — pada setiap gerakan bertahan/menangkis. Ini berbeda dari kecenderungan ilmu anggar Eropa daratan untuk menggunakan langkah geser mundur (“retreat” dalam bahasa Inggris), walaupun  tentu saja langkah geser mundur juga umum dikenal dan digunakan dalam tradisi anggar Britania

Menjelang akhir abad ke-18, ada beberapa perkembangan yang sangat mempengaruhi tradisi pedang tebas Inggris/Britania pada masa-masa berikutnya.

Pertama-tama, pola pedang dinas dalam kemiliteran Britania dibakukan untuk pertama kalinya pada tahun 1786. Sebelum munculnya aturan ini, jenis dan rancangan pedang yang digunakan oleh pasukan Britania sangat beragam sesuai keinginan dan kocek perwira (atau sponsor) masing-masing resimen. Ini tentu saja sangat merepotkan bagian perbekalan dan menimbulkan kesenjangan mutu peralatan antara kesatuan-kesatuan “kaya” dan “miskin.” Aturan tahun 1786 menetapkan ciri-ciri bilah yang boleh digunakan untuk perwira infanteri (pasukan jalan kaki), lalu dua tahun kemudian (1788) muncul aturan baru yang menetapkan model pedang prajurit dan perwira kavaleri (pasukan berkuda). Resimen-resimen kavaleri berat mendapat pedang lurus yang lumayan berat sementara resimen-resimen kavaleri ringan mendapat sabel melengkung yang menyerupai model Polandia atau Hungaria di masa itu. Tak lama kemudian pecah perang melawan pemerintah revolusioner Perancis, dan sayangnya kedua model pedang kavaleri tersebut terbukti kurang efektif dalam kampanye militer di Belanda. Seorang perwira kavaleri Inggris bernama John Gaspard le Marchant merasa malu akibat buruknya keahlian pedang pasukannya dibandingkan dengan pasukan sekutu dari Austria yang turut serta dalam kampanye itu; dengan usaha keras akhirnya ia berhasil meyakinkan pemerintah Inggris untuk menetapkan jenis sabel baru bagi kavaleri ringan (dikenal sebagai 1796 Pattern Light Cavalry Sword) dan pedang lurus baru bagi kavaleri berat (1796 Pattern Heavy Cavalry Sword) beserta buku petunjuk latihan untuk meningkatkan kemampuan prajurit kavaleri Britania dalam bermain pedang. Buku petunjuk baru ini cenderung menekankan gerakan menebas karena tebasan terasa lebih alami bagi prajurit biasa yang umumnya belum pernah mempelajari ilmu anggar sebelum bergabung dalam dinas kemiliteran. Versi pendeknya dikenal sebagai Broadsword Exercises dan dapat dibaca di sini atau di sini, sementara versi penuh/panjangnya tersedia di forum Schola Gladiatoria. Ciri utama metode Le Marchant adalah pembagian bentuk-bentuk tebasan menjadi enam garis/arah dasar yang digambarkan pada diagram sasaran berbentuk lingkaran (atau kepala manusia). Keenam garis tebasan ini kemudian menjadi dasar ajaran tentang metode serangan dalam metode sabel militer Inggris hingga penghujung abad ke-19.

target

Pada waktu yang nyaris bersamaan, sekelompok peminat dan guru anggar di sekitar London menerbitkan sejumlah karya yang tak kalah berpengaruh. Salah satunya adalah The Art of Defence on Foot with the Broad Sword and Sabre pada tahun 1798; buku ini tidak menyebutkan nama pengarangnya dengan jelas, tetapi hasil penelitian dalam beberapa tahun terakhir cenderung mengerucutkan dugaan pada Charles Roworth, juragan percetakan yang disebut sebagai penerbit buku ini. Karya ini terbukti sangat populer hingga dicetak ulang berkali-kali; edisi kedua terbit pada tahun yang sama, edisi ketiga terbit pada tahun 1804, dan edisi keempat terbit di Amerika Serikat pada tahun 1824. Tentara Inggris belum memiliki buku petunjuk latihan pedang baku bagi pasukan infanteri semasa penerbitan tiga edisi pertama (karena karya Le Marchant ditujukan untuk pasukan kavaleri) tetapi Art of Defence on Foot sangat dianjurkan secara tidak resmi dan banyak perwira infanteri Inggris yang menggunakannya sebagai panduan latihan pedang mereka. Satu bagian yang jelas diketahui pengarangnya dalam buku ini adalah Ten Exercises (sepuluh rangkaian jurus) di akhir buku; bagian ini merupakan karya John Taylor, mantan guru pedang resimen London Light Horse Volunteers (laskar kavaleri ringan sukarela London). Seperti halnya enam garis tebasan Le Marchant (yang digunakan juga dalam Art of Defence on Foot), kesepuluh rangkaian jurus ini akan menjadi bagian penting dari peraturan latihan pedang infanteri militer Britania di kemudian hari.

Baik Roworth maupun Taylor sepertinya merupakan kenalan dekat Henry Angelo senior, putera dari Domenico Angelo — seorang guru anggar asal Italia yang diundang ke Inggris pada pertengahan abad ke-18 untuk menjadi guru anggar gaya Perancis bagi kedua putera tertua Raja George III. Belakangan Domenico membuka sekolah anggar yang dengan cepat menjadi salah satu “tempat nongkrong” kalangan bangsawan dan sosialita Inggris di masa itu; pada tahun 1780 ia menurunkan sekolah anggar ini kepada Henry senior yang segera mewarisi pamor ayahnya sebagai guru anggar. Henry sendiri tidak hanya tertarik pada seni anggar tusuk yang diajarkan turun-temurun dari ayahnya, tetapi juga mempelajari anggar tebas dari berbagai sumber; konon ia sering berlatih single-stick (tongkat kayu/rotan yang digunakan untuk latihan sabel) dengan kawannya John Perry, seorang redaktur koran dari Aberdeen yang sedang mendekam di penjara London akibat kasus pencemaran nama baik. Pada tahun 1798 Henry senior memanfaatkan pengalaman ini untuk menyusun dan menerbitkan buku Hungarian and Highland Broadsword. Buku ini penuh dengan ilustrasi indah oleh Thomas Rowlandson tentang berbagai bentuk serangan menurut ajaran Angelo, tetapi sayangnya susunan isinya tidak cocok untuk digunakan sebagai bahan acuan atau buku ajar; untuk mengatasi kekurangan ini, pada tahun berikutnya (1799) Angelo dan Rowlandson kembali bekerjasama untuk menerbitkan poster berjudul The Manual and the Ten Divisions of the Highland Broadsword, yang berisi sepuluh rangkaian jurus yang sangat mirip (walaupun ada beberapa perbedaan yang cukup kentara) dengan sepuluh rangkaian jurus karangan Taylor. Poster ini direstorasi oleh Nick Thomas dari Academy of Historical Fencing pada tahun 2016 lalu dan hasilnya dapat dilihat di sini. (Gambar di kepala artikel ini merupakan nukilan dari poster tersebut.)

Putera Henry Angelo senior, yaitu Henry Charles Angelo, meneruskan warisan ayahnya dengan menjadi guru anggar generasi ketiga di akademi Angelo. Henry Charles sudah terlibat dalam pengembangan ilmu anggar militer sebelum ia mengambil alih akademi tersebut; pada tahun 1812 ia sempat iseng mengajarkan ilmu pedang cutlass (sabel pendek yang umum digunakan di kapal perang) kepada para kelasi saat ia mengunjungi armada Inggris yang memblokade pantai Belanda. Ajarannya ternyata disukai para kelasi dan dianggap berguna oleh para perwira kapal, sehingga pada tahun berikutnya (1813) Henry junior menyusun ajaran tersebut menjadi sebuah poster. Angkatan Laut Kerajaan Inggris kemudian mengembangkan ajaran Angelo lebih lanjut menjadi satu bab pendek dalam buku peraturannya; bab ini  memuat penjelasan yang lebih rinci tetapi ragam jurusnya dikurangi agar lebih mudah dipelajari dalam waktu singkat.

Tetapi karya Henry Angelo junior yang paling berpengaruh adalah Rules and Regulations for the Infantry Sword Exercise (1817) yang ditetapkan sebagai petunjuk dan aturan resmi ilmu pedang bagi kalangan perwira dan bintara infanteri dalam dinas militer Britania. Karya ini menggabungkan berbagai unsur dari karya-karya sebelumnya oleh Le Marchant, Taylor, Roworth, dan Henry Angelo senior beserta beberapa tambahan dari Henry junior sendiri. Pengaruhnya begitu besar hingga Angkatan Darat Britania mencetak ulang dan memperbarui ilustrasi buku panduan Henry Angelo jr. beberapa kali sepanjang abad ke-19; panduan ini baru sepenuhnya diganti pada tahun 1895.

Kuatnya pengaruh Le Marchant, Roworth/Taylor, dan dinasti Angelo sepanjang abad ke-19 bukan berarti sama sekali tak ada perkembangan lainnya dalam tradisi sabel dan pedang lebar Inggris/Britania. Kalangan perwira militer masih meneruskan kebiasaan belajar ilmu pedang di luar pelatihan dasar di resimen mereka dengan menyambangi berbagai perguruan anggar (salle) sipil di seantero Britania. Melalui perguruan-perguruan sipil ini, anggar militer di kalangan perwira masih sedikit-banyak terpengaruh oleh tren “kekinian” yang datang silih berganti dari Eropa daratan.

Salah satu kejadian yang paling berpengaruh terhadap perkembangan ilmu sabel di Eropa daratan adalah penyatuan Italia dari sejumlah kerajaan, republik, dan negara-kota kecil menjadi pendahulu negara modern yang kita kenal sekarang ini. Salah satu buah dari penyatuan ini adalah upaya pemerintah Kerajaan Italia yang baru untuk menetapkan panduan dan aturan latihan baku tentang ilmu pedang sabel bagi semua kesatuan kavalerinya. Sayangnya upaya tersebut gagal meredam perselisihan antara gaya pedang Italia Utara yang terpengaruh Perancis dengan gaya pedang Italia Selatan (terutama Napoli dan Sisilia) yang lebih konservatif dan agak terpengaruh Spanyol. Awalnya gaya Italia Utara, terutama aliran yang dibakukan oleh Giuseppe Radaelli dan kemudian dicatatkan oleh muridnya yang bernama Settimo del Frate pada tahun 1868, sempat menjadi aliran dominan yang diajarkan di akademi kavaleri di Milan. Sepeninggal Radaelli, aliran Selatan di bawah Masaniello Parise naik daun bersamaan dengan dipindahkannya pusat pendidikan ilmu pedang militer ke Roma pada tahun 1884. Tetapi kebanyakan perwira kavaleri dan instruktur pedang militer Italia sepertinya sudah terlanjur terbiasa dengan aliran Radaelli sehingga pada dasarnya mereka tetap memakai dan mengajarkan metode Radaelli di lapangan dengan beberapa unsur tambahan dari ajaran Parise. Metode Radaelli beserta aliran-aliran Italia utara yang serupa belakangan menjadi sangat berpengaruh dan tersebar luas di seluruh Eropa, di antaranya lewat guru-guru aliran ini yang berkelana ke negeri asing seperti Luigi Barbasetti yang mengajar di Wina dan di Paris. Aliran Radaelli bahkan masih bisa disebut sebagai “kakek buyut” langsung dari gaya sabel modern yang digunakan dalam olahraga anggar sekarang ini.

Salah satu punggawa aliran Radaelli, yaitu Ferdinando Masiello, ditunjuk untuk menyusun buku petunjuk sabel militer Britania baru yang diterbitkan pada tahun 1895, tak lama setelah ditetapkannya model pedang/sabel kavaleri baru pada tahun 1892. Metode baru ini mengundang pujian dari kalangan perwira dan guru anggar yang terpengaruh gaya Italia tetapi juga mendapat banyak penolakan dari perwira-perwira dan guru-guru anggar yang lebih senang mengikuti gaya Perancis atau masih ingin mempertahankan metode Inggris menurut aliran Angelo. Sementara itu, banyak kalangan lain (di luar golongan perwira kavaleri dan pegiat anggar) yang menganggap pertikaian ini konyol, karena pada era 1890-an pedang sudah relatif jarang dipakai di medan perang sungguhan akibat munculnya senjata-senjata api baru yang lebih akurat dan lebih mudah digunakan — misalnya pistol revolver dan karabin berlaras ulir yang menjadi senjata utama pasukan kavaleri pada paruh kedua abad ke-19.

Silang budaya antara berbagai aliran sabel Eropa pada paruh kedua abad ke-19 ini menghasilkan sejumlah kitab sabel “sipil rasa militer” di Inggris dalam artian buku-buku tersebut ditulis oleh anggota atau purnawirawan militer Britania tetapi tidak pernah ditetapkan secara resmi sebagai panduan latihan sabel dalam dinas militer Inggris/Britania. Contohnya adalah Lessons in Sabre, Singlestick, Sabre and Bayonet, and Sword Feats (1880) karya Kopral-Mayor (alias Sersan Mayor Kavaleri) John Musgrave Waite yang mengambil dasar dari metode Angelo lalu mencampurkannya dengan beberapa unsur Perancis, misalnya pertahanan yang tidak mengandalkan gerakan kaki slip dan posisi pedang yang lebih diluruskan (mengarah ke lawan) dalam sikap pasang dasar. Ada pula Cold Steel (1889) karangan Alfred Hutton yang mencampurkan kerangka dasar aliran Angelo dan Radaelli beserta sejumlah jurus yang dipelajari Hutton dari kitab-kitab pedang lebar Inggris abad ke-18 seperti Miller dan Roworth. Selain itu Richard Francis Burton — seorang petualang ternama yang konon pernah menyusup ke Mekah dan mengamati ibadah haji dengan menyamar sebagai orang Pashtun (perbatasan Pakistan-Afghanistan) — sempat pula menuliskan pendapatnya tentang ilmu sabel dalam A New System of Sword Exercise for Infantry (1876), walaupun sebagian besar masyarakat anggar dan militer di Inggris nampaknya tak terlalu menganggapnya serius akibat perangai Burton yang agak kasar dan senang mengundang kontroversi.

Tak ada peristiwa yang menandai akhir tradisi sabel dan pedang lebar Inggris/Britania secara pasti. Penerbitan buku-buku panduan yang berakar pada tradisi ini masih berlanjut hingga awal abad ke-20, misalnya Broad-sword and Single-stick (1911) karangan R.G. Allanson-Winn (yang belakangan masuk Islam dan menjadi salah satu tokoh masyarakat Islam pertama di Inggris!) dan sejumlah petunjuk syarat kecakapan khusus Master-at-Arms dalam Gerakan Pramuka Inggris (Boy Scouts). Tetapi tewasnya sejumlah besar pemuda kalangan bangsawan dan menengah-atas Britania dalam Perang Dunia I nampaknya merupakan salah satu faktor yang cukup menghambat penerusan tradisi pedang tebas Britania kepada generasi berikutnya. Perubahan nilai-nilai sosial-budaya yang menyertai kejatuhan beberapa monarki besar di Eropa (Rusia, Austria-Hungaria, dan Turki Utsmani) juga sepertinya mempercepat pergeseran ilmu sabel dan anggar dari ilmu bela diri (baik untuk di medan perang ataupun di arena duel) menjadi cabang olahraga yang berorientasi pada pertandingan. Kecenderungan ini terlihat pada video Flashing Steel produksi British Pathé yang membandingkan gaya sabel lama (militer) dengan gaya sabel baru (Olimpade) pada tahun 1926. Mungkin sisa-sisa terakhir tradisi pedang militer Inggris yang masih hidup hingga munculnya komunitas HEMA (Historical European Martial Arts/ilmu beladiri Eropa kuno) modern adalah permainan singlestick yang masih dipraktekkan hingga tahun 1980-an di kalangan kelasi Angkatan Laut Inggris dan sempat dipelajari dari segelintir praktisi terakhirnya oleh beberapa peneliti HEMA.

Jika Anda tertarik mempelajari tradisi pedang lebar dan sabel Britania, kebetulan Gwaith-i-Megyr cabang Bandung memiliki kelompok studi singlestick yang membahas materi dari Angelo, Hutton, dan Waite. Silahkan bergabung dengan latihan kami jika ada kesempatan!

Iklan

4 pemikiran pada “Tradisi pedang lebar (broadsword) dan sabel Inggris

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s